Jadi Kutukan atau Jadi Berkat?

Jika anda ditanya serangkaian pertanyaan berikut:

1.      Siapakah yang paling bertanggung jawab untuk memastikan kualitas sekolah?

2.      Siapakah yang punya wewenang paling besar untuk memajukan pendidikan?

3.      Siapakah yang paling bertanggung jawab jika siswa gagal?

Jawaban apa saja yang akan anda berikan?

 

Departemen Pendidikan? Dunia bisnis? Kepala Sekolah? Komite Sekolah? Masyarakat – Komunitas? Pengawas Sekolah? Presiden Negara? Gubernur Provinsi? Siswa? Guru? Tes negara? Orangtua?

 

Di Amerika, beberapa tahun lalu, April 2002, ada sebuah survei serupa itu dan memunculkan jawaban yang cukup menarik. Responden diperbolehkan menjawab lebih dari satu. Hasilnya…

 

Untuk pertanyaan 1 dan 2, 800 orang responden survei tersebut memberikan jawaban yang tinggi untuk ‘komite sekolah’à 49 dan 41%, ‘orang tua’ à 45 dan 39% dan ‘presiden’ à 29 dan 31%. Kemudian untuk pertanyaan ke-3, 30% menjawab ‘siswa’, 19% menjawab ‘guru’ dan 14% ‘orangtua’.

 

Apakah anda memikirkan apa yang saya pikirkan? Ya, sebagai pendidik anda semua pasti melihatnya. Ya, mana ‘guru’?! Di mana dan bagaimana peran ‘guru’ tidaklah tampak dalam jawaban responden untuk pertanyaan 1 dan 2, bahkan tidak pula masuk dalam 10 besar jawaban!

 

Mungkin ‘memastikan kualitas sekolah’ dan ‘memajukan pendidikan’ terdengar sebagai tugas orang-orang di jajaran manajemen dan administratif. Ironis-nya saat ditanya salah siapa jika ‘siswa gagal’, kata ‘guru’ baru muncul…bersama ‘siswa’ dan ‘orangtua’. Secara kasat mata peran ‘guru’ dianggap sempit (cuma mengajar) sehingga jika siswa gagal berarti ‘guru’ nya gagal. ‘Guru’ dianggap kurang memberikan peran dalam menentukan kualitas dan mutu sekolah atau pendidikan.

 

Saya pastikan kepada anda…para pendidik…para guru…

Kita punya peran yang besar, jauh lebih besar dibanding apa yang selama ini mereka kira!

 

Kalau mereka pikir kita kecil dan tidak punya andil dalam sukses-gagalnya sebuah sistem pendidikan, sukses-gagalnya sebuah sekolah atau sukses-gagalnya seorang siswa, maka coba ingat dampak seekor ‘nyamuk’ di dunia ini. Nyamuk dapat mempengaruhi kehidupan dan cara hidup mahluk-mahluk yang jauh lebih besar dibanding dirinya. Nyamuk dapat memaksa manusia berpikir keras tentang bagaimana menghindari ‘gigitan’nya. Pabrik obat banyak didirikan, teknologi canggih banyak digunakan demi mengejar kemenangan dalam ‘perang’ melawan nyamuk…karena jika tidak mereka dapat membunuh jutaan manusia dalam sekali wabah.

 

Guru, walaupun ‘kecil’ punya peran besar menentukan arah masa depan sebuah bangsa bahkan dunia. ‘Power’ guru tidak terbatas pada siapa yang ada di kelas-kelas mereka, tetapi juga pada apa yang ada di dalam kurikulum sekolah, apa yang ada di pemerintahan dan masyarakat serta apa yang ada di masa mendatang.

 

Mungkin mereka berpikir demikian karena… “Wong, tidak dibebani dengan masalah dunia pendidikan di sekolah dan melulu hanya mengurus siswa di kelasnya saja masih selalu membuat guru merasa berat toh?”

 

Bagaimana mereka akan percaya bahwa kita punya ‘power’ jika kita tidak tahu bagaimana memperoleh dan menggunakannya? Pertama-tama mungkin, cobalah dengarkan alasan-alasan kita sendiri selama ini…

 

Banyaknya beban kurikulum, kurangnya insentif dan fasilitas sudah bertubi-tubi menjadi alasan atas lemahnya kinerja kita selama ini. Ditambah lagi baru-baru ini malah keluar Surat Menteri Keuangan No. S-145/MK05/2009 tertanggal 12 Maret 2009 yang mengatur pembayaran tunjangan profesi. Dengan keluarnya surat itu bisa jadi para guru yang sudah menerima tunjangan profesi diminta untuk mengembalikannya jika sampai akhir tahun 2009 PP Presiden tentang tunjangan profesi belum juga keluar (Kompas, 7 April 2009, halm.26, kol.3). Hal itu jelas membuat alasan di atas (terutama kurangnya insentif) menjadi semakin kuat, guru semakin resah.

 

Tapi, cobalah resahkan hal sederhana yang dapat memompa kinerja kita sebagai guru dan mendongkrak peran kita di mata umum. Cobalah berpikir tentang bagaimana menentukan standar perilaku siswa dengan menjadi model mereka (siswa red.) bukan dengan tamparan dan sabetan rotan, bagaimana memilih dan memilah bahan ajar secara kreatif dan inovatif bukan melulu yang mahal dan butuh biaya, bagaimana merencanakan instruksi pembelajaran yang anti kebosanan, membentuk daya kreasi dan kritis siswa, bagaimana membuat diri kita terus termotivasi untuk belajar…

 

Cobalah mulai dengan hati kita, kata-kata bawah sadar kita…katakan pada diri kita, KITA BISA! Positif-lah! Karena sudah cukup kita mendengar celotehan bawah sadar kita yang negatif! Sumbat telinga hati kita dari hal negatif! Kemudian coba perhatikan kembali lirihan suara hati kita yang selama ini tidak terdengar karena kalah nyaring…

 

Kita punya peran penting! Kita punya ‘power’! Kita tidak bisa begitu saja mereka lupakan dalam menentukan kualitas dan kemajuan sekolah serta pendidikan kemudian begitu saja dipersalahkan jika terjadi kegagalan baik dalam sistem atau pada siswa. Untuk itu, maka pemahaman atas bagaimana kita menggunakan ‘power’ itu menjadi penting…karena mungkin saja kita dengan tidak sadar menjadikan ‘power’ kita itu kutukan bukan berkat… Sebagaimana hal ini juga disadari oleh tokoh superhero fiktif di dunia Hollywood:

 

“With great power comes great responsibility. This is my gift, my curse. Who am I?  I’m Spiderman.”

- – Peter Parker, Spiderman

Advertisement
Explore posts in the same categories: Refleksi

6 Comments on “Jadi Kutukan atau Jadi Berkat?”

  1. agusampurno Says:

    saat guru merencanakan perencanaan mingguan nya dikelas, sebenarnya pada saat yang sama ia sedang mengikat kontrak. Untuk jadi orang dewasa di kelas yang mau mengerti saat siswa perlu bantuan dan bimbingan.

    Tulisan yang supeeer, Sangadit.

    • lasminingsih Says:

      Sebenarnya keberhasilan maupun kegagalan sebuah pendidikan salah satunya adalah kita kita ini selaku guru mereka, oleh karena itu agar pendidikan di Indonesia ini berhasil yang perlu disentuh lebih dulu adalah guru. Kebijakan pemerintah saat ini sangatlah tepat, khususnya kerja sama dengan lembaga lembaga pemerhati pendidikan, termasuk Sampoerna fondation dimana banyak pelatihan pelatihan yang diadakan untuk para guru dan kepala sekolah

    • istuning Says:

      nampaknya sampai saat ini guru msh disibukkan dg urusan pribadinya yg penuh dg tuntutan sehingga lupa bahwa siswa sgt merindukan posisi guru sbg tuntunan dan guru blm merasa butuh sebuah kreatifitas dan inovasi yg sebenarnya akan menjadikan siswa semangat dan tidak pernah bosan mengikuti pembelajaran

    • lilikendangsrirahayu Says:

      sebenarnya aku telah merasakan ‘power’ itu. karena aku merasa bila seorang guru melakukan pembelajarannya melalu proses yang sungguh-sungguh dilakukan mulai dari persiapan, pelaksanaan dan refleksi. itu saja “power” yang bisa saya maknai dari tulisan anda tapi meudah-mudahan itu menjadi “power” yang anda maksud.

  2. triwahjuni handajani Says:

    guru di jaman sekarang harus telaten mengajar dan mendidik dengan hati ,artinya disertai dg rasa kasih sayang yang tulus tidak hanya materi saja tapi kedekatan rasa memiliki bahwa anak yang kita didik adalah anak kita . masa depan bangsa sangat bergantung dari anak.masa depan anak juga sebagian besar bergantung dari guru,selain orang tua dan lingkungan.

  3. gumilangguntoyo Says:

    komentar:
    Dalam perjalanan melaksanakan tugas sebagai guru yang sehari hari bergelut dengan pembelajaran sudah seharusnya selalu melui tahapan kerja yang sistimatis terkontrol danpasti tujuannya.Karena apapun alasannya guru sebagai pencetak hidup seseorang untuk masa de pan.Maka tindakan guru harus benar benar baik.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.