Pelajaran dari Pidato Seratus Hari Pertama Obama

obama1Beberapa hari lalu (26 Maret 2009), Obama menyampaikan pidato 100 hari pertamanya. Kesempatan ini menjadi bersejarah dan unik karena Obama menyediakan waktu untuk tanya jawab langsung dengan rakyat Amerika melalui berbagai media, seperti telepon, video online atau email. Usaha Obama untuk keluar dari ‘gelembung Washington’ dengan terus menjaga transparansi dan akuntabilitas jabatan presiden serta memperkecil jarak antara pemimpin negara dengan rakyatnya, bukanlah hal yang paling menarik bagi saya. Hal yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana kata-kata ‘guru’ dan ‘pendidikan’ muncul beberapa kali dalam momen ini.

 

Dalam rangkaian pidatonya, Obama sempat menyampaikan bahwa memang ada banyak pemutusan hubungan kerja sebagai konsekuensi krisis yang melanda, namun ia menyatakan bahwa hal itu sebisa mungkin tidak terjadi pada pekerjaan guru dan polisi. Pernyataan ini merupakan jawaban logis agar bangsa Amerika dapat terus berkarya dan berusaha menjadi berdaya. Kestabilan dalam negeri di bidang keamanan dan pendidikan merupakan prasyarat awal dalam rangkaian usaha Amerika untuk keluar dari krisis terburuk dalam sejarah bangsa mereka ini.

 

Pertanyaan-pertanyaan langsung dari rakyat Amerika pun bukanlah pertanyaan yang mudah untuk dijawab langsung. Pertanyaan yang paling menarik bagi saya adalah pertanyaan pertama yang mempertanyakan masalah reformasi pendidikan. Obama menjawabnya dengan menguraikan bagaimana reformasi pendidikan dapat berjalan dengan baik. Reformasi sistem dan pemenuhan sumberdaya adalah jalan keluar yang ditawarkan. Yang pertama tidaklah lebih penting dari yang terakhir begitu pula sebaliknya. Obama menyatakan hal terpenting dalam keduanya adalah ‘guru’! Obama menyatakan bahwa ‘uang’ bukanlah segalanya. Fokusnya adalah guru. Pemerintah akan berusaha agar guru mendapatkan pengembangan profesional yang mutakhir dan tepat sehingga mampu memanfaatkan serta berinovasi dengan sumberdaya yang tersedia, serta bagaimana kemudian ‘salary’ guru juga dapat membuat ‘tenang’ mereka dalam mendidik siswa-siswanya.

 

Saya mencoba menarik beberapa hal menarik dalam perspektif pendidikan dari momen yang terjadi di negara yang selama ini menjadi kiblat dunia tersebut.

 

Pemimpin punya visi jelas dan tegas dalam mengartikulasikannya terutama dalam hal pendidikan dan guru

Pemimpin negara memang hanya salah satu faktor di balik kemajuan atau kemunduran sebuah negara, tetapi seorang pemimpin yang punya visi jelas dan tegas dalam mengartikulasikan visi tersebut mempunyai daya dorong yang signifikan dalam memajukan negaranya. Pada liputan ‘Associated Press’ (site), sebagai visinya Obama menyatakan kelak tidak ada tempat bagi guru yang buruk untuk mengajar di kelas-kelas sekolah Amerika, oleh karena itu secara tegas ia juga menyatakan sistem untuk menilai guru harus diperbaiki sedemikian rupa sehingga tidak lagi hanya berdasarkan hasil ujian yang dilakukan oleh siswa-siswanya. Dengan demikian diharapkan siswa tidak hanya dididik untuk lulus ujian tetapi juga dididik untuk cinta belajar.

 

Masyarakat kritis akan sistem dan kebijakan mutu pendidikan

Walaupun memang media untuk berkomunikasi langsung dengan pemimpin negara agak terbatas, masyarakat dapat langsung menyalurkan pandangan kritisnya lewat sekolah dimana anaknya dididik. Masyarakat dapat langsung terlibat dengan mempertanyakan bagaimana proses pembelajaran berikut metode yang digunakan di kelas anaknya, bukan cuma bagaimana anaknya belajar di kelas. Masyarakat dapat langsung mempertanyakan bagaimana anaknya bisa mendapatkan keterampilan memimpin, bekerjasama dan keterampilan hidup yang lain di luar pertanyaan bagaimana anaknya bisa lulus ujian.

 

Melihat peningkatan profesionalisme guru sebagai kunci utama

Profesionalisme guru tidak diukur dari berapa banyak pelatihan telah diikuti olehnya, melainkan seberapa banyak hal dari pelatihan tersebut telah ia manfaatkan dalam proses pembelajaran siswa. Guru harus proaktif dan berusaha sedemikian rupa agar pelatihan yang didapatkannya berguna. Pemerintah pun harus proaktif dan berusaha sedemikian rupa dalam ‘meramu’ pelatihan guru beserta kegiatan ‘follow up’-nya agar dampak positif pada siswa lebih besar. Katakanlah guru dapat menyerap pelatihan dengan baik, tetapi tahap selanjutnyalah yang penting, yaitu bagaimana guru didukung bukan saja dalam menerapkan tetapi juga membagikan apa yang telah ia dapatkan. Sebuah sunah menguatkan hal itu: “Sampaikanlah walaupun hanya satu ayat” yang dapat diartikan kita akan memahami sesuatu dengan lebih baik jika kita dapat mengajarkannya kepada orang lain. Selain itu, tahap refleksi setiap guru –seperti halnya pada siswa– atas pelatihan (pelajaran) yang mereka dapatkan menjadi hal yang signifikan dalam proses belajar. Pada tahap inilah mereka benar-benar membuat arti dan menyimpulkan pemahaman mereka.

 

Mungkin kelak, pertanyaan yang sering kita tanyakan kepada anak kita sepulang sekolah seperti: “Apa yang kamu pelajari dalam pelajaran Matematika di sekolah tadi, Nak?” dapat digantikan atau dilanjutkan dengan pertanyaan: “Bagaimana gurumu mengajarimu Matematika di sekolah tadi, Nak?”, karena sekali lagi, kita, masyarakat seyogyanya dapat berperan langsung sebagai kontrol, bukan untuk menghakimi para guru dan pendidik tetapi untuk membantu dan bekerja sama dalam proses pendidikan anak-anak kita yang notabene adalah generasi masa depan penerus cita-cita bangsa.

Advertisement
Explore posts in the same categories: Telaah

3 Comments on “Pelajaran dari Pidato Seratus Hari Pertama Obama”


  1. Serasa disadarkan kembali oleh tulisan ini, bahwa selama ini kita silau dengan sistem pendidikan di luar negeri, yang menurut penulis menjadi kiblat pendidikan di dunia. Ternyata dimanapun negaranya, PEMIMPIN juga faktor kunci keberhasilan pendidikan, terutama di Indonesia. Yuk, kita lihat lagi bagaimana KH. Dewantara melahirkan filosofinya yang seharusnya mencerminkan pendidikan yang hakiki di Indonesia.
    “ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYO MANGUN KARSO, TUT WURI HANDAYANI” (Didepan memberi teladan, ditengah memberi bimbingan, dan dibelakang memberi dorongan).

    Saya, pribadi, hampir tidak melihat arti tersirat dari filosofi tersebut yang berujung kepada “kuantitas” atau “angka” sebagai tujuan pendidikan. Malahan, seharusnya filosofi ini yang menjadi kiblat pendidikan bagi negara-negara diluar. Selama ini banyak sekolah di Indonesia rela membeli lisensi kurikulum internasional yang mahal, hanya demi supaya sekolahnya diakui berstandar internasional. Lalu bagaimana kita mempertahankan filosofi diatas yang jelas-jelas nilainya sangat “internasional” atau “diterima” dan “dapat diterapkan” di negara manapun?

    Saya berdoa pada setiap calon pemimpin yang sedang promosi program kerjanya, terutama di bidang pendidikan, “tahu” dan “paham” makna dari filosofi pendidikan yang dicetus oleh Pahlawan kita diatas. Jangan dijadikan sejarah semata, seolah-olah sekarang tidak lagi menjadi pedoman pendidikan dimasa yang akan datang. Filosofi KH.Dewantara jelas tidak ketinggalan jaman dan akan selalu dipegang teguh bagi pendidik dan generasi muda Indonesia berikutnya.

    Sungguh “briliant” seorang KH.Dewantara di masanya sehingga lahirlah filosofi pendidikan yang bernilai global ini, berharap akan lahir KH.Dewantara baru yang membawa pengaruh bagi dunia pendidikan, dan melekat di setiap elemen pendidikan, khususnya pemimpin negara.

    “Maju Terus Pendidikan Indonesia”


  2. Melihat link di atas (http://www.google.com/hostednews/ap/article/ALeqM5jYXihiLDzjtNarYIK3nakUILU3KAD975R8E00), seorang pemimpin rakyat yang gagal menjalankan tugas negaranya, ibarat seorang guru yang gagal mendidik siswanya. Negara ini juga ibarat sebuah kelas, ada yang siswanya pandai, ada juga yang bermasalah. Andai saja calon pemimpin kita nanti bukan saja menguasai bidang administrasi negara, namun juga menguasai kompetensi pendidik.
    Kalau pemimpinnya berhasil dalam tugas negaranya, maka guru-pun akan menjadi inspirasi bagi siswanya.

    “Sandanglah atribut guru pada setiap ruh pemimpin”
    (Markus Mardianto, April, 2008)

  3. andreas Says:

    Barangkali berguna penilaian yang agak unik berikut ini

    100 Hari Presiden Obama : The Most Expensive President Since 1945

    Itulah kesimpulan Grabor Steingart, jurnalis Spiegel yang bertugas di biro Washington DC terkait kinerja 100 hari Presiden Obama. Dalam penilaian Steingart kinerja 100 hari presiden baru ini dicirikan mahal, glamour dan kontradiktif.

    Grabor bekerja di majalah berita DER SPIEGEL sejak 1990, reputasinya teruji hingga meraih penghargaan jurnalistik. Bukunya yang paling laris adalah “The War for Wealth: The True Story of Globalization or Why the Flat World Is Broken” yang diterbitkan di Amerika Serikat dan Inggris tahun 2008 oleh McGraw Hill.

    Silah kunjung
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/100-hari-presiden-obama-most-expensive.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.