Perbudakan Kognitif dan Tragedinya
Akhir minggu kemarin, tepatnya Sabtu 21 Maret 2009, terbit sebuah tulisan di Jakarta Post yang mengulas tentang bagaimana peristiwa berdarah di kampus Nanyang Technological University (Singapura) dan Virginia Tech University (USA) telah menelan 2 korban bunuh diri yang keduanya adalah mahasiswa Asia (David Wijaya, Indonesia dan Seung-Hui Cho, Korea) yang brilliant secara akademis sejak usia sekolah mereka. Dalam tulisan tersebut, mereka berdua dianggap begitu mengutamakan raihan predikat akademik sehingga begitu depresi ketika ‘mentok’ dengan masalah dalam proses pencapaian predikat prestisius tersebut. Tulisan Pak Setiono Sugiharto (yang mengajar di Atma Jaya Jakarta) tersebut ditutup dengan pernyataan yang cukup kuat: “Pendidikan seharusnya membekali siswa dengan kebijaksanaan, cinta, sikap menghormati perbedaan, tenang, adil dan percaya. Pendidikan seharusnya membebaskan siswa dari ‘perbudakan kognitif’ yang telah menodai sistem pendidikan kita bertahun-tahun lamanya.”
Sebagai pendidik kita harusnya memandang tragedi tersebut sebagai pelajaran. Pencapaian kognitif memang penting tapi di dunia nyata hal tersebut tidaklah lebih penting dibandingkan pencapaian karakter anak didik. Pendidik mempunyai tanggung jawab yang besar (baca: besoaarrr!) atas mereka yang dididiknya. Pendidik berpengaruh (sedikit atau banyak) pada takdir anak didiknya. Pendidik berkesempatan besar mengubah takdir anak didiknya, apakah itu meninggikan atau menjerumuskan… Ya, takdir! Perlu diyakini bahwa takdir seorang manusia sudah dicatat oleh Yang Maha Kuasa, apapun itu, keistimewaannya adalah BELIAU Yang Maha Adil menyerahkan semua pilihan itu kepada sang manusia…, mau jadi ‘penjahat’ atau jadi ‘pahlawan’…semuanya pilihan si manusia…semuanya pilihan siswa kita… Pilihan! Itulah peluang yang diberikan Tuhan pada para pendidik atas mereka yang dididiknya…mempengaruhi pilihan…mempengaruhi mereka untuk memilih jalan kebaikan.
Sebuah lembaga riset prestisius dunia (Mc Kinsey, 2007) memperkuat pernyataan di atas, riset tersebut menyimpulkan bahwa “Kualitas sebuah sistem pendidikan tidak akan dapat melampaui kualitas para pendidik di dalamnya”. Jadi, siapapun Anda, jika anda ingin mempengaruhi pilihan anak didik Anda agar mau menuju jalan kebaikan, maka tidak ada jalan lain kecuali meningkatkan KUALITAS DIRI terus menerus. Belajar, belajar dan belajar… Fokuslah untuk lebih MENDENGAR agar anak didik kita pun biasa MENDENGAR keberbedaan, fokuslah untuk lebih KRITIS agar anak didik kita pun menjadi KRITIS dalam menyelesaikan masalahnya. Dengan demikian, semoga tidak ada lagi David atau Seung-Hui yang lain di masa-masa mendatang. Maju terus PENDIDIK INDONESIA! Pemimpin masa depan ada di dalam kelas-kelas Anda… (ADH, 24 Maret 2009)
March 25, 2009 at 2:10 am
Setuju, Padalah hal ini sudah dinyatakan oleh pemerintah dalam Tujuan Pendidikan Nasional(Ketentuan Umum No.1)yang berbunyi:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”
Jadi, mari kita, terutama guru dan orangtua, mendukung undang-undang bahwa menurut pemerintah, pendidikan itu jelas-jelas pada akhirnya adalah untuk membentuk. Di samping mata ajaran yang sudah kita rencanakan, aspek mana lagi yang akan kita didik. Jadilah pengajar sekaligus pendidik.
Maju Terus Guru!
March 31, 2009 at 3:25 am
Kenyataan seperti pada 2 kasus itu memang telah kita bersama ketahui. Tetapi bagaimana kita bisa tahu hubungan sebab akibat kasus tersebut dengan ‘kekeringan’ pada sistem pendidikan kita? Karena yang hidup dalam masyarakat toh ‘hanya’ akademik. Bagaimana sekolah yang punya prinsip bahwa pendidikan adalah holistisitas kehidupan tetap bertahan? Da bagi kelompok ini, kenyataan untuk dipinggirkan adalah sebuah realitas. Yang sering kita alami adalah orangtua siswa kita setuju dengan konsep ini di tahun awal, namun menjadi ‘pemberontak’ disaat putra-putrinya akan memasuki ujian nasional. Lalu, untuk sementara kita mengacu kepada kebutuhan hedonisme pendidikan yang bernama hasil akademik…
Selamat bekerja ya.
April 3, 2009 at 4:17 am
Wah Pak Agus Lis, ilmu nya sudah turun ke Adit nih..
Saya menikmati tulisan dan komentar anda semua.
Bravo web 2.0
keep read, write and web
April 23, 2009 at 9:43 am
Adit gw berpesan jd guru yg baik ya..guru sekaligus pendidik yg terus belajar n belajar..sukses dit