Sampah dan Tanah

rumputubin2Pagi ini tampak seperti pagi-pagi hariku yang biasa…tapi firasatku mengatakan bahwa pagi ini aku akan belajar sesuatu.

Hari ini kami memutuskan untuk berjalan dari stasiun Sudirman menuju ke kantor kami di gedung SSS. Tak ada yang istimewa dalam perjalanan itu. Namun, ada 2 hal unik yang kami pelajari, tentang apa yang kami jumpai atau tidak kami jumpai.

Hal Pertama, di sepanjang 20 menit kami berjalan, tidak kami jumpai ‘tempat sampah’ di sepanjang trotoar menuju kantor kami. Menurut kami, cukup aneh jika pemerintah setempat atau pengelola barisan gedung bertingkat di jalan itu tidak mampu (atau tidak mau?) untuk sekedar menyediakan 1 atau 2 tempat sampah. Kami mulai berpikir, mungkin hal itu dilakukan dengan sengaja supaya membuka lapangan pekerjaan sebagai tukang pungut sampah. Karena faktanya, di sepanjang jalan, kami hanya menjumpai 2 orang tukang sampah!

Hal ke-dua, di sepanjang jalan yang tertutup semen itu kami sadari bahwa di setiap tempat yang tidak tertutup semen atau retakan-retakan kecil, telah ditumbuhi rerumputan yang hijau dan tampak segar… Fenomena kecil ini dapat menjadi perumpamaan dan diadaptasikan ke dalam berbagai keperluan.

Kali ini kami mencoba salah satu perumpamaan. Tanah sudah di tutup semen, namun saat semen itu terbuka, sesempit apapun bukaannya maka rumput akan keluar dan tumbuh ke permukaan. Unsur terpenting dalam fenomena ini adalah tanah-nya, tempat dimana rerumputan itu tumbuh dan berkembang. Kita dapat umpamakan tanah adalah sekolah, semen adalah hal-hal dari luar baik fisik maupun psikologis, yang membatasi sekolah dalam usaha menumbuhkan rerumputan hijau (siswa-siswa). Maka, jika tanahnya tetap subur, serapat apapun semennya, saat ada kesempatan maka semburat hijau kesegaran siswa-siswa-nya akan segera terlihat dari luar. Masalahnya adalah bagaimana tanah tetap menjadi subur dan terus menyediakan ‘nutrisi’ untuk siswa-nya. ‘Nutrisi’ di sini bukan melulu hal yang bersifat fisik.

‘Nutrisi’ di sini adalah sistem. Sistem dan lingkungan sekolah yang mendukung ada 6 dimensi seperti yang diungkapkan Michael Fullan dalam bukunya ‘The Moral Imperative of School Leadership’, yaitu:

  1. Struktur: kejelasan dan organisasi peran
  2. Standar: hal yang dirasakan sebagai ukuran untuk terus menuju perbaikan
  3. Tanggung jawab: perasaan mampu untuk memecahkan permasalahan
  4. Pengakuan: perasaan dihargai dan diakui atas pekerjaan yang dilakukan dengan baik
  5. Dukungan: perasaan dipercaya dan saling mendukung dalam organisasi
  6. Komitmen: perasaan bangga dan layak berada dalam organisasi

Jika ditelaah lebih lanjut, maka keenam hal tersebut sebenarnya merupakan hal yang dapat ditumbuhkan dari dalam komunitas sekolah itu sendiri. Hal itu adalah ‘nutrisi’ utama dalam seonggok ‘tanah’ yang subur.

ADH

Explore posts in the same categories: Refleksi

4 Comments on “Sampah dan Tanah”


  1. Iya bang Adhit, mengenai tempat sampah sepanjang dukuh atas dan SSS, yang menarik juga adalah hipotesa kita yang sepertinya, pemilik gedung2 tinggi megah itu tidak rela kalau tempat sampahnya diisi sampah (bekas orang lain). Sampah butuh goodwill branding secara politis, yang membuat orang berlomba2 untuk mencari nama dengan mengurus sampah.

  2. Sang Tukang Kebun Says:

    Saluuutee Bro..

    Ternyata pernyataan sederhana yg kita bahas tadi pagi menghasilkan buah pikiran yang luar biasa..Memang bener, jika kita mau tumbuh berkembang tidak perlu melihat dimana kita akan berkembang, tapi melihat keadaan dan tempat dimana kita bisa bertumbuh dan berkembang dengan maksimal. Bagaikan rumput yang tumbuh diantara setiap celah di Trotoar Soedirman hingga akhir perjalanannya dalam kondisinya yang terhimpit, setidaknya dia telah memberikan keindahan dan kehijauan bagi setiap mata hati yang memperhatikannya. Demikian pula kita, bersyukurlah dalam setiap kesempatan yang kita miliki saat ini karena setiap langkah yang kita tapaki memberi pengharapan bagi orang lain dan terutama diri kita.

    Salam,
    Sang Tukang Kebun

  3. agusampurno Says:

    Perumpamaan yang menarik, serta contoh konkrit dari seorang guru yang baik.
    Sang Adit yang saya kenal seorang praktisi yang berbeda dengan yang lain, punya wawasan yang lebih mengenai lingkungan. Saat video dvd mengenai pemanasan globalnya Al Gore baru direlease, siswa kelas6 SD Global Jayadi bawah arahan Sang Adit berkesempatan melihat dan membahas demi membuka cakrawala mengenai kesadaran mengelola lingkungan.
    Ok Maju terus dunia pendidikan di RI.

  4. nita Says:

    Pemikiran yang “dalem” bgt, setuju sekali dengan pemikiran anda. Memang untuk terus maju dan berhasil qta harus memkasimalkan sumber daya yang ada.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.