Last week, the first –out of campus– Educator Sharing Network (ESN) was held successfully with a collaborative effort between SFTI and SDN 012 Bendungan Hilir Jakarta. The venue was SDN 012 itself. There were no obvious differences in the look of the school except its green plants and cleanliness! SDN 012 Benhil is one of the Adiwiyata Schools since 2006, where environmental awareness and culture really flows in their blood, body and soul! Read the rest of this post »
School Partnership: Turning Parents into Ambassadors
Posted April 23, 2009 by sangaditCategories: Telaah
MANAJEMEN OTAK!
Posted April 20, 2009 by sangaditCategories: Telaah
Acara ESN-SFTI, hasil kerjasama Planet Edupro, SIM Singapura, dan SFTI, berkesempatan menghadirkan Tony Buzan, Inventor Mind Map, seorang ahli manajemen otak. Acara diadakan hari Sabtu, 18 April 2009, dimulai pukul 10.30 dan berakhir sekitar pukul 13.00 di Anjungan Provinsi Lampung, Taman Mini Indonesia Indah.
Kesempatan sharing ini merupakan preview dari seminar penuh Tony Buzan di minggu ke-3 bulan Agustus 2009 nanti. Dalam ESN 2 jam ini, Tony Buzan menyampaikan beberapa hal yang menarik serta menyatakan apresiasinya pada komunitas guru dan pendidik yang hadir. Beliau bahkan membungkus pembicaraannya dengan bagaimana guru seharusnya berperan dalam ‘pendidikan’. Beliau memulai dengan mengingatkan peserta untuk menyiapkan bagian tertentu dari catatan mereka untuk mencatat definisi-definisi tentang guru yang akan ia bahas seiring sesi berjalan. Dan berikut ini adalah isi catatan saya.
Jadi Kutukan atau Jadi Berkat?
Posted April 8, 2009 by sangaditCategories: Refleksi
Jika anda ditanya serangkaian pertanyaan berikut:
1. Siapakah yang paling bertanggung jawab untuk memastikan kualitas sekolah?
2. Siapakah yang punya wewenang paling besar untuk memajukan pendidikan?
3. Siapakah yang paling bertanggung jawab jika siswa gagal?
Jawaban apa saja yang akan anda berikan?
Departemen Pendidikan? Dunia bisnis? Kepala Sekolah? Komite Sekolah? Masyarakat – Komunitas? Pengawas Sekolah? Presiden Negara? Gubernur Provinsi? Siswa? Guru? Tes negara? Orangtua?
Akan Repotkah Kita?
Posted April 7, 2009 by sangaditCategories: Telaah
Akan repotkah kita jika suatu saat nanti kita punya generasi siswa yang…jujur mengakui kesalahannya sendiri, bukan cuma berani menunjuk hidung teman-temannya?
Akan repotkah kita jika suatu saat nanti kita punya generasi siswa yang…berani tampil menunjukkan apa yang telah ia pelajari, bukan jujur memberitahu bahwa tugas temannya belum selesai?
Akan repotkah kita jika suatu saat nanti kita punya generasi siswa yang…rewel dan bawel ketika tugas-tugas sekolah tidak menantang pikiran kritis dan kreatifnya, bukan cuma bisa protes karena kebanyakan tugas?
Akan repotkah kita jika suatu saat nanti kita punya generasi siswa yang…protes saat orangtuanya memberi uang yang tidak jelas asalnya, bukan cuma bisa rewel dan bawel ketika minta dibelikan mainan baru?
Akan repotkah kita jika suatu saat nanti kita punya generasi siswa yang…sadar akan senangnya BELAJAR sebagaimana mereka sadar akan pentingnya BERMAIN?
Akan repotkah kita jika suatu saat nanti kita punya generasi siswa yang…senang MAKANAN PENUH GIZI sebagaimana mereka senang LAGU PENUH CINTA?
Akan repotkah kita jika suatu saat nanti kita punya generasi siswa yang…gemar MEMBACA karya sastra sebagaimana mereka gemar MENONTON film Hollywood?
Akan repotkah kita jika suatu saat nanti kita punya generasi siswa yang…suka akan GAMELAN tradisional sebagaimana mereka suka GAME-LAN bertemakan perang?
Perlu repot-repotkah kita mempersiapkan mereka?
Akan repotkah kita?
Aditya Dharma Jakarta, 30 Maret 2009
Pelajaran dari Pidato Seratus Hari Pertama Obama
Posted March 31, 2009 by sangaditCategories: Telaah
Beberapa hari lalu (26 Maret 2009), Obama menyampaikan pidato 100 hari pertamanya. Kesempatan ini menjadi bersejarah dan unik karena Obama menyediakan waktu untuk tanya jawab langsung dengan rakyat Amerika melalui berbagai media, seperti telepon, video online atau email. Usaha Obama untuk keluar dari ‘gelembung Washington’ dengan terus menjaga transparansi dan akuntabilitas jabatan presiden serta memperkecil jarak antara pemimpin negara dengan rakyatnya, bukanlah hal yang paling menarik bagi saya. Hal yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana kata-kata ‘guru’ dan ‘pendidikan’ muncul beberapa kali dalam momen ini.
Dalam rangkaian pidatonya, Obama sempat menyampaikan bahwa memang ada banyak pemutusan hubungan kerja sebagai konsekuensi krisis yang melanda, namun ia menyatakan bahwa hal itu sebisa mungkin tidak terjadi pada pekerjaan guru dan polisi. Pernyataan ini merupakan jawaban logis agar bangsa Amerika dapat terus berkarya dan berusaha menjadi berdaya. Kestabilan dalam negeri di bidang keamanan dan pendidikan merupakan prasyarat awal dalam rangkaian usaha Amerika untuk keluar dari krisis terburuk dalam sejarah bangsa mereka ini.
Pertanyaan-pertanyaan langsung dari rakyat Amerika pun bukanlah pertanyaan yang mudah untuk dijawab langsung. Pertanyaan yang paling menarik bagi saya adalah pertanyaan pertama yang mempertanyakan masalah reformasi pendidikan. Read the rest of this post »
Perbudakan Kognitif dan Tragedinya
Posted March 24, 2009 by sangaditCategories: Refleksi
Akhir minggu kemarin, tepatnya Sabtu 21 Maret 2009, terbit sebuah tulisan di Jakarta Post yang mengulas tentang bagaimana peristiwa berdarah di kampus Nanyang Technological University (Singapura) dan Virginia Tech University (USA) telah menelan 2 korban bunuh diri yang keduanya adalah mahasiswa Asia (David Wijaya, Indonesia dan Seung-Hui Cho, Korea) yang brilliant secara akademis sejak usia sekolah mereka. Dalam tulisan tersebut, mereka berdua dianggap begitu mengutamakan raihan predikat akademik sehingga begitu depresi ketika ‘mentok’ dengan masalah dalam proses pencapaian predikat prestisius tersebut. Tulisan Pak Setiono Sugiharto (yang mengajar di Atma Jaya Jakarta) tersebut ditutup dengan pernyataan yang cukup kuat: “Pendidikan seharusnya membekali siswa dengan kebijaksanaan, cinta, sikap menghormati perbedaan, tenang, adil dan percaya. Pendidikan seharusnya membebaskan siswa dari ‘perbudakan kognitif’ yang telah menodai sistem pendidikan kita bertahun-tahun lamanya.”
Sebagai pendidik kita harusnya memandang tragedi tersebut sebagai pelajaran. Pencapaian kognitif memang penting tapi di dunia nyata hal tersebut tidaklah lebih penting dibandingkan pencapaian karakter anak didik. Pendidik mempunyai tanggung jawab yang besar (baca: besoaarrr!) atas mereka yang dididiknya. Pendidik berpengaruh (sedikit atau banyak) pada takdir anak didiknya. Pendidik berkesempatan besar mengubah takdir anak didiknya, apakah itu meninggikan atau menjerumuskan… Ya, takdir! Perlu diyakini bahwa takdir seorang manusia sudah dicatat oleh Yang Maha Kuasa, apapun itu, keistimewaannya adalah BELIAU Yang Maha Adil menyerahkan semua pilihan itu kepada sang manusia…, mau jadi ‘penjahat’ atau jadi ‘pahlawan’…semuanya pilihan si manusia…semuanya pilihan siswa kita… Pilihan! Itulah peluang yang diberikan Tuhan pada para pendidik atas mereka yang dididiknya…mempengaruhi pilihan…mempengaruhi mereka untuk memilih jalan kebaikan.
Sebuah lembaga riset prestisius dunia (Mc Kinsey, 2007) memperkuat pernyataan di atas, riset tersebut menyimpulkan bahwa “Kualitas sebuah Read the rest of this post »
Sampah dan Tanah
Posted February 17, 2009 by sangaditCategories: Refleksi
Pagi ini tampak seperti pagi-pagi hariku yang biasa…tapi firasatku mengatakan bahwa pagi ini aku akan belajar sesuatu.
Hari ini kami memutuskan untuk berjalan dari stasiun Sudirman menuju ke kantor kami di gedung SSS. Tak ada yang istimewa dalam perjalanan itu. Namun, ada 2 hal unik yang kami pelajari, tentang apa yang kami jumpai atau tidak kami jumpai.
Hal Pertama, di sepanjang 20 menit kami berjalan, tidak kami jumpai Read the rest of this post »
Guru dan Api Unggun
Posted February 3, 2009 by sangaditCategories: Telaah
Dahulu, proses belajar seringkali diumpamakan sebagai gelas kosong yang diisi air. Volume gelas tidak mungkin dapat mengikuti volume air yang mengisinya… Oleh karena itu saat tuangan air dilakukan terus menerus, maka luapan airnya akan tertumpah dan membuat basah sekitar gelas, bahkan mungkin dapat membuat orang terjatuh karena tergelincir air luapan tadi.
Sekarang, proses belajar mungkin lebih baik jika diumpamakan sebagai api unggun. Sebuah proses bagaimana menjaga api unggun tetap menyala, menghangatkan dan menerangi sekitarnya, tidak membiarkannya liar membesar dan membakar sekitarnya…walaupun untuk itu tangan harus kotor dan berkali-kali terpercik api…
Dengan demikian peran seorang guru kini menjadi esensial dalam dunia yang sedang berbenah dan terus berubah. Barisan guru masa kini (= masa lalu) harus mampu membangun dan memimpin generasi masa depan agar mereka dapat memimpin pembangunan dunia masa depan yang lebih baik…
Sebuah puisi yang saya terjemahkan secara Read the rest of this post »
Selamat Datang!
Posted January 29, 2009 by sangaditCategories: Uncategorized
Aditya Dharma adalah fasilitator, konsultan dan praktisi yang aktif di dunia pendidikan, dia gemar pada hal-hal abstrak-konseptual-visioner begitu juga pada hal-hal konkret-praktis-pragmatis.

Recent Comments